kisah celengan

Posted: November 18, 2010 in renungan

Teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang guru. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang celengan (yang akhir2 ini sedang “naik daun”).
Kisahnya begini….

Celengan yang senantiasa berjalan langkah demi langkah, sebagai wadah pembawa berkah bagi orang2 yang senantiasa mengisi nya dengan keikhlasan.
Yah, receh demi receh…..lembar demi lembar uang akan selalu menghujani nya. Tak jarang juga hingga penuh (pada saat2 tertentu).

Ketika receh dan lembar itu satu demi satu masuk, ada si receh 100, 500 dan ada juga si lembar seribu, limaribu, sepuluhribu, duapuluhribu, limapuluhribu dan seratusribu. Terjadilah percakapan antara mereka yang berada dalam celengan itu.

Percakapan dimulai oleh si lembar seribu, dia berkata “Wah, kita ketemu lagi ya” ucapnya pada si seribu lainnya. dan dijawab “iya, ketemu lagi ketemu lagi…udah bosan juga niy ketika masuk ke sini pasti ketemu kamu lagi, pengen ganti suasana n melihat wajah2 baru nan lebih fresh”. Si seribu lainnya menanggapi, “mungkin memang udah nasib kita kali ya akan berada di tempat ini, padahal rindu rasanya melihat warna2 lain yang masuk kesini, biar kita juga ga mono….hmm…kita hanya bisa berharap”.

Tak lama kemudian, masuk si lembar limaribu, ia pun merasa asing dengan tempat itu, untungnya dia melihat beberapa lembar limaribu lainnya di sela2 himpitan seribu lainnya. Betapa senangnya ia bertemu teman2nya, dan ia pun menghampiri teman2nya “alhamdulillah, aku menemukan kalian disini, tapi kenapa ya kita hanya sedikit bgt??? kenapa yang banyak hanyalah si seribu aja? lihatlah, klo dihitung2 kita cuma sepuluh aja” limaribu lainnya menanggapi, “Iya, aku berharap kita makin banyak disini, ga hanya sedikit disini, iri juga terkadang klo melihat seribu, mereka selalu kompak berada disini…hmmm…..”

Terlihat di salah satu pojok, ada lima lembaran sepuluhribu, mereka sepertinya sangat sedih. “Hmm….kenapa kita yang paling sedikit ya disini?” kata salah satunya. Hmm…apa mungkin teman2 kita yang lain tidak mau ya kesini? apa mereka alergi masuk kesini? Hmm…..ntahlah, mungkin aja kayak gt ya”. Lalu dijawablah oleh sepuluhribu lainnya, “kita seharusnya tetap bersyukur….karena kita masih di izinkan bisa masuk kesini, kita buktikan pada yang lainnya klo kita bukan alergi dengan tempat ini, kita senang berada disini sebenarnya, tapi ya mungkin agak berat mereka memasukkan kita kesini. Kita berdo’a saja ya, smoga teman2 kita juga akan segera menyusul masuk kesini…Amin”.
Hal ini terdengar oleh si lembar duapuluhribu, makin sedih mendengarnya karena mereka hanya ada tiga lembaran saja, lebih sedikit lagi dibanding sepuluhribu. Mereka juga hanya berdesah saja, kapan ya kita juga bisa rame disini????

Kemudian, di pojok lainnya juga ada lembaran limapuluhribu yang merasa asing dengan tempat ini. Kenapa kita berada di antara seribu yang banyak sekali ya….? tapi syukurlah kita masih ada berdua, lihatlah si lembar seratusribu itu. ia hanya sendiri, ga ada teman, dia kelihatan sangat sedih sekali. Ia merasa sangat asing sekali dengan tempat itu. Tempat apa ini?, pikirnya. Rasanya sebelum ini blum pernah kesini. Apakah aku tersesat??? Ya Allah, mana teman2 ku, kenapa aku hanya sendiri disini???”, ratapnya dengan sangat sedih.

Itulah sepenggal cerita tentang “kisah celengan” yang mungkin dapat kita jadikan sebagai hikmah.
🙂

tulisan ini didapat dari blog senior

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s