FARMAKOORGANISASI AKTIVIS KAMPUS : DIANTARA KEBUTUHAN, TANTANGAN, KEPEDULIAN, DAN KEHARUSAN

Posted: Januari 23, 2010 in organisasi

Seperti halnya dengan dunia pendidikan pada umumnya, dunia mahasiswa tidak lepas dari praktek belajar mengajar, tugas dan dinamika organisasi mahasiswa. Berbicara tentang mahasiswa tidak cukup hanya berkaitan dengan kuliah saja, sudah cukup bukti yang menunjukkan bagaimana eksistensi mahasiswa dalam melaksanakan perannya sebagai social control yang terorganisir dalam berbagai organisasi mahasiswa. Namun, tidak semua mahasiswa berkiprah di jalan ini (baca : organisasi mahasiswa), hanya sebagian kecil saja yang mengambil peran tersebut yang selanjutnya dikenal sebagai aktivis kampus.

Menjadi seorang aktivis kampus bukan berarti akan terbebas dari kewajiban sebagai mahasiswa pada umumnya, peran sebagai pelajar tetap harus dijalankan disamping menjalankan peran sebagai sebagai aktivis kampus, bukan berarti pula mengatas namakan kesibukan dan kekurang lihaian mengatur waktu dijadikan alasan turunnya prestasi akademik yang menjadi momok bagi sebagian aktivIs kampus dan calon aktivis kampus. Sehingga hanya segelintir mahasiswa saja yang berani mengambil peran di jalan ini.

Disinilah letak penilaian bagaimana seorang aktivis kampus dapat berperan ganda pada dunia yang sama tanpa harus mengorbankan salah satunya. Tidak ada aturan baku yang menghendaki seorang mahasiswa berperan ganda tersebut, keinginan ini kembali pada kebutuhan, kepedulian dan tantangan bagi mahasiswa tersebut, karena jika dlihat sepintas maka sebenarnya menjadi seorang aktivis kampus hanya akan menambah beban berat dipundak mahasiswa itu sendiri di samping beban utamanya sebagai seorang pelajar.

Jika dikhususkan sebagai seorang mahasiswa farmasi yang terkenal dengan kesibukannya baik diwaktu kuliah maupun diwaktu praktikum yang tidak bisa dipungkiri memiliki porsi yang berbeda dengan mahasiswa lainnya, tampaknya menambah beban kesibukan lain diluar kesibukan kuliah dalam hal ini adalah berorganisasi menjadi aktivis kampus hanyalah akan menambah beban mahasiswa farmasi itu sendiri apalagi jika yang dimasuki itu merupakan organisasi politik mahasiswa yang sama sekali tidak berhubungan dengan bidang farmasi.

Namun, pertanyaannya apakah seorang mahasiswa farmasi yang nantinya akan menjadi seorang farmasis akan cukup hanya memiliki bekal ilmu pengetahuan farmasi saja ketika berkiprah didunia kerja? Jika dipersempit, apakah seorang mahasiswa farmasi cukup menuntut ilmu farmasi saja, tanpa berorganisasi? Organisasi mengajarkan ilmu yang “berbeda” dari semua disiplin ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi, organisasi mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin dan yang dipimpin, mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang tampaknya berguna sekali ketika diaplikasikan di dunia kerja.

Seorang mahasiswa, dari bidang disiplin manapun ia, tetap memiliki peran yang sama, yaitu : Agent of change, Iron stock., dan agent of control. Maka, idealnya seorang calon farmasis juga dituntut berperan aktif mensukseskan peran mahasiswa tersebut, tanpa mengorbankan kewajiban seorang pelajar. Agaknya, pemikiran ini sudah dipahami oleh sebagian mahasiswa farmasi, buktinya wakil presiden mahasiswa UNAND periode 2008/2009 adalah seorang mahasiswa farmasi dan tidak sedikit mahasiswa farmasi yang mengisi jabatan-jabatan lainnya di struktur kepengurusan BEM KM UNAND maupun BEM KM FMIPA. Keterlibatan berorganisasi ini (organisasi politik mahasiswa) tidak dimiliki oleh mahasiswa farmasi secara keseluruhan, karena tidak ada aturan baku yang menghendaki demikian, keaktifan tersebut kembali pada kemauan mahasiswa itu sendiri.

Memang, untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, seorang mahasiswa harus tekun dan disiplin dibangku perkuliahan. Ini dibuktikan ioleh sebahagian mahasiswa yang tidak begitu aktif dalam organisasi, namun jika ditanya kepada mereka yang “sibuk” maka mereka menjawab bahwa dengan berorganisasi mereka akan lebih memiliki semangat untuk belajar, karena mereka (aktivis kampus) sudah terbiasa bekerja dibawah tekanan dan ini dibuktikan dengan tidak kalah tingginya indeks prestasi mereka disbanding mahasiswa biasa.

Jadi, ikut serta berperan aktif d dunia kampus sebenarnya bukan lah hal baru bagi mahasiswa, bukanlah semata sebuah pilihan, dan tantangan disampig kesibukan utama seorang pelajar seberapapun sibuknya seperti seorang mahaiswa farmasi, namun berperan aktif di dunia kampus merupakan sebuah keharusan bagi mahasiswa karena kepada mahasiswa telah disematkan title kaum intelektual yang salah satu perannya adalah sebagai social control. Seorang kaum intelektual seharusnya telah berfikir apakah kontribusinya terhadap masyarakat sebelum ia menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan melanjutkan nantinya di dunia kerja.

Komentar
  1. Fajar Ramadhitya P mengatakan:

    Salam kenal, numpang tanya, bagaimana dengan farmakoorganisasi farmasis setelah terjun di dunia profesi?

  2. khairulalfikri mengatakan:

    salam kenal juga… menurut saya idealnya, seorang farmasis juga memiliki kewajiban untuk ikut memajukan profesinya dan bertujuan untuk meningkatkan eksistensi farmasis di dunia kesehatan indonesia. sebagai seorang cdalon farmasis, maka pembelajaran di kampus dengan menjadi aktifis akan meningkatkan skill mahasiswa farmasi untuk terjun di dunioa profesi.

    tulisan ini ditujukan untuk mahasiswa farmasi untuk juga terjun di dunia perpolitikan mhasiswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s